Bandesa Desa Adat Canggu

Sambutan Bandesa Adat Canggu: Menggali Potensi Lokal untuk Kemajuan Desa

August 28, 2024

Latar Belakang

Desa Adat Canggu, sebagai salah satu desa adat di Bali, memiliki peran penting dalam menjaga dan melestarikan kearifan lokal serta budaya yang telah diwariskan oleh leluhur. Di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi, Desa Adat Canggu menghadapi berbagai tantangan dalam mempertahankan nilai-nilai tradisional untuk kemajuan masyarakat Desa Adat Canggu. Pada kesempatan kali ini Bandesa Desa Adat Canggu  I Wayan Suarsana mengajak masyarakat/krama Desa Adat Canggu mengenal lebih jauh program dan upaya yang telah ataupun sedang dilakukan oleh Bandesa Adat Canggu.

Pembahasan 

Desa Adat Canggu adalah Desa Adat yang berkembang pesat dari sektor pariwisata, oleh karena itu Bandesa Adat Canggu membuat program program yang dapat menunjang kemajuan di Desa Adat Canggu baik dari segi adat, lingkungan, maupun ekonomi lokal masyarakat Desa Adat Canggu. Oleh karena Video Sambutan Bandesa Adat Canggu dapat Kalian Tonton di Chanel BUPDA Desa Adat Canggu.

Sejarah Desa Adat Canggu

Awal Keberadaan Desa Adat Canggu

  • Pada zaman dahulu, penguasa Bali bernama Shri Jaya Sakti mendirikan berbagai pura, termasuk Pura Lempuyang di puncak gunung dan Pura Purusada di Desa Kapal.
  • Saat menuju arah selatan Bali, Shri Jaya Sakti menemukan batu hijau di pinggir pantai dan membangun Pura Kahyangan Watu Mejajahan. Dan Para pengikutnya mendirikan Dusun Canggah pada tahun 1145 Masehi.

Periode Kerajaan Bali

  • Pada masa pemerintahan Bhatara Shri Parameswara, Bali diperintah oleh putra-putranya, Shri Masula dan Shri Masuli.
  • Singasari mengalami kehancuran, dan Bali diperintah oleh Bhatara Mahaguru Dharma Utungga Warmadewa yang kemudian digantikan oleh putranya, Shri Tapolung, bergelar Bhatara Asta Sura Ratna Bhumi Banten.
  • Bali mengalami berbagai peperangan dengan Majapahit di bawah Ki Patih Gajah Madha pada tahun 1343 Masehi, yang berujung pada kekalahan Bali.

Penaklukan Majapahit

  • Setelah penaklukan Bali, Majapahit menunjuk I Gusti Agung Pasek Gelgel sebagai pejabat sementara di Bali.
  • Putra Mpu Soma Kepakisan, Dalem Ketut Kreshna Kepakisan, diangkat sebagai penguasa Bali dengan pusat pemerintahan di Samprangan dan kemudian di Sweca Linggarshapura Gelgel.

Pembentukan Desa Canggu

  • Wilayah Canggu berada di bawah kekuasaan Mengwi dan dianugerahkan kepada I Gusti Gede Meliling.
  • I Gusti Gede Mangku, keturunan I Gusti Gede Meliling, menguasai Tibubeneng dan menurunkan keturunan yang menguasai wilayah-wilayah sekitar seperti Poh Gending, Tandeg, dan Berawa.
  • Pada masa kemudian, Desa Canggu dikuasai oleh Kerobokan Badung pada tahun 1811 Masehi, yang menyebabkan perpindahan penduduk Griya Canggu ke Desa Pererenan.

Pembagian Wilayah

  • Wilayah Tibubeneng dibagi menjadi empat desa: Padonan, Tandeg, Berawa, dan Canggu.

Sejarah Desa Canggu berakhir dengan pembagian wilayah ini, mencatat perjalanan panjang dari zaman kerajaan hingga masa modern.

Bupda Sebagai Solusi/Salah Satu Inisiatif Kemajuan Desa Adat Canggu

 

Berdasarkan  Undang - Undang Desa Adat yang dibentuk berdasarkan perda no 4 tahun 2019. bahwa Desa Adat yang tumbuh berkembang selama berabad-abad serta memiliki hak asal usul, hak tradisional, dan hak otonomi asli mengatur rumah tangganya sendiri, telah memberikan kontribusi sangat besar terhadap kelangsungan kehidupan masyarakat dalam berbangsa dan bernegara. Dengan adanya hal tersebut merujuk ke pembentukan BUPDA Desa Adat Canggu sebagai solusi dan salah satu inovasi Desa Canggu. 

Masalah Yang Telah Di Atasi Oleh BUPDA Desa Adat Canggu

 BUPDA Desa Adat Canggu saat ini telah melakukan terobosan seperti : 

  1. Membentuk unit JAPSADA (Jasa Pengangkutan Sampah Desa Adat), yang memiliki tujuan mengelola sampah masyarakat.
  2. Membentuk Unit Usaha pengelolaan Canggu Plaza (pertokoan BUPDA)
  3. Menyediakan fasilitas warung lokal, untuk meningkatkan perekonomian warga lokal
  4. Menertibkan pedagang asongan demi kenyamanan wisatawan
  5. Pembentukan CSI dengan tujuan untuk menciptakan instruktur surfing yang profesional.
  6. Pembentukan CSF dengan tujuan untuk mengabadikan moment para peselancar.
  7. Bekerja sama dengan pengusaha Desa Canggu dalam bentuk pembersihan lingkungan berskala 1 bulan di Desa Canggu
  8. Pembentukan tim creative sebagai penyampaian di media sosial BUPDA Canggu dan Desa Adat Canggu
  9. Bekerjasama dengan pecalang Desa Adat Canggu dalam penertiban pantai
  10. Bekerja sama dengan Balawista untuk keselamatan orang-orang di Pantai Canggu
  11. Bekerja sama dengan klinik untuk penanganan pertama di Pantai Canggu.

 

Narasi penutup

BUPDA Desa Adat Canggu akan terus berkomitmen untuk berinovasi dan beradaptasi dengan perubahan zaman, memastikan setiap langkah yang diambil selalu berorientasi pada kesejahteraan dan kemakmuran bersama. Semoga BUPDA Desa Adat Canggu tetap menjadi teladan dan inspirasi bagi desa-desa lain, menunjukkan bahwa dengan tekad dan kerja keras, kemajuan yang berkelanjutan dapat diraih oleh siapa saja.

Dengan semangat kebersamaan, mari kita lanjutkan langkah menuju masa depan yang lebih cerah, penuh dengan peluang dan harapan bagi seluruh warga Desa Adat Canggu.

crossmenu