
Wisata dan dharmayatra adalah dua bentuk perjalanan yang memiliki tujuan berbeda namun saling melengkapi, terutama dalam konteks budaya dan keagamaan di Bali. Wisata lebih berfokus pada eksplorasi keindahan alam, keunikan budaya, serta warisan sejarah suatu tempat. Sementara itu, dharmayatra adalah perjalanan spiritual yang bertujuan untuk memperdalam nilai-nilai keagamaan, menjalankan ritual suci, serta mempererat hubungan dengan Tuhan atau Sang Hyang Widhi Wasa.
Prajuru Desa Adat Canggu menggabungkan konsep wisata dan dharmayatra dalam perjalanan ke Yogyakarta dengan tujuan yang lebih luas dan bermakna. Melalui perjalanan ini, yang tidak hanya menikmati keindahan alam dan kekayaan budaya Yogyakarta, tetapi juga memperkuat spiritualitas melalui kunjungan ke tempat-tempat suci. Integrasi antara eksplorasi budaya dan dharmayatra ke tempat suci ini menciptakan harmoni yang memperkaya pemahaman akan tradisi dan budaya lokal, yang ada di luar Pulau Bali.

Perjalanan ini dirancang untuk memperdalam pemahaman spiritual melalui kunjungan ke pura-pura suci, sambil mengeksplorasi keindahan alam serta kekayaan budaya yang tersebar di kawasan Yogyakarta. Kegiatan ini tidak hanya menjadi bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai spiritual yang luhur, tetapi juga menjadi sarana refleksi diri untuk memperkuat hubungan dengan Tuhan atau Sang Hyang Widhi Wasa. Selain itu, dharmayatra ini bertujuan untuk mempererat kebersamaan di antara para Prajuru, membangun rasa kekeluargaan yang lebih solid, dan memperluas wawasan mengenai keanekaragaman budaya, tradisi, serta sejarah Indonesia yang begitu kaya dan penuh makna. Melalui pengalaman ini, diharapkan setiap peserta dapat menggali inspirasi dari tradisi leluhur, sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga harmoni antara kehidupan spiritual, sosial, dan alam sekitar.
Hari 1: Perjalanan dimulai dari kantor LPD Desa Adat Canggu menuju Pelabuhan Gilimanuk. Dalam perjalanan, rombongan singgah di Pura Rambut Siwi untuk berdoa memohon keselamatan dalam perjalanan. Setelah menyeberang ke Ketapang, rombongan melanjutkan perjalanan ke Restoran Area Paiton untuk makan siang. Sebelum tiba di Pop Hotel Yogyakarta untuk beristirahat, rombongan singgah di RM Taman Sari Solo untuk makan malam.
Day 2: Hari kedua dimulai dengan sarapan pagi di hotel. Setelah sarapan, rombongan mengunjungi Candi Borobudur, salah satu situs warisan dunia UNESCO. Setelah makan siang di Mbah Kung Resto, rombongan melanjutkan wisata ke Adventure Jeep Merapi Tour, mengunjungi Museum Sisa Harta dan Batu Alien. Rombongan juga berkesempatan membeli oleh-oleh di Grosir Batik Jawon sebelum mengakhiri hari dengan makan malam di Malioboro.

Day 3: Hari ketiga, perjalanan diawali dengan sarapan pagi di hotel dan dilanjutkan ke pusat oleh-oleh Bakpia Pathok 25. Rombongan kemudian melanjutkan dharmayatra ke Pura Banguntapan Bantul Yogyakarta, untuk sembahyang dan makan siang. Setelah makan siang, perjalanan dilanjutkan ke Heha Sky View untuk menikmati pemandangan dari ketinggian, lalu ke Candi Prambanan sebelum kembali ke Bali malam harinya.
Day 4: Setelah menyeberang di Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk, rombongan tiba di Bali pada pagi hari dan menikmati sarapan khas Gilimanuk, yaitu Ayam Betutu Men Tempeh. Selanjutnya, rombongan kembali menuju Desa Canggu untuk menyelesaikan perjalanan.

Wisata dan dharmayatra ini memiliki makna yang sangat mendalam bagi Prajuru Desa Adat Canggu. Tidak hanya sebagai perjalanan spiritual yang memperkuat hubungan dengan Tuhan atau Sang Hyang Widhi melalui kunjungan ke pura dan tempat-tempat suci, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk memperluas wawasan budaya dan sejarah bangsa. Setiap destinasi yang dikunjungi, baik itu pura, candi, maupun situs bersejarah lainnya, memberikan pelajaran berharga tentang nilai-nilai tradisi dan warisan leluhur. Melalui pengalaman langsung ini, para peserta dapat memahami lebih dalam kekayaan budaya nusantara.
Perjalanan wisata dan dharmayatra ini memberikan kesempatan bagi Prajuru Desa Adat Canggu untuk mengukir pengalaman berharga dalam menjelajahi kekayaan budaya dan spiritual di Yogyakarta. Selain memperkuat nilai-nilai spiritual, kegiatan ini juga meningkatkan kebersamaan dan memperkaya wawasan mengenai warisan budaya Indonesia. Dengan semangat dan kebersamaan yang terjalin, diharapkan kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan di masa mendatang.